Sabtu, 16 April 2011

Kontrol Kebiasaan Nonton TV Bila Ingin Sehat

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, TV memang berfungsi sebagai media informasi, hiburan dan pendidikan. Tapi bila hobi menonton TV dilakukan hingga menghabiskan waktu seharian, maka TV bisa menjadi sumber berbagai penyakit.

Beberapa penelitian menemukan bahwa kebiasan berlama-lama duduk di depan TV bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bila dilakukan secara tidak terkontrol dan berlebihan, menonton TV bisa dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan fisik dan mental.

Berikut beberapa masalah kesehatan yang terkait dengan kebiasaan menonton TV secara berlebihan, seperti dilansir Lifemojo, Sabtu (16/4/2011):

1. Peningkatan risiko obesitas dan penyakit jantung
Orang yang menonton TV 4 jam atau lebih setiap hari kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung sebesar 80 persen. Menonton TV terlalu lama sama dengan banyak duduk yang berarti tidak ada gerakan otot. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama menonton TV bisa berakibat penimbunan lemak dan kolesterol yang bisa memicu terjadinya obesitas dan serangan jantung di usia muda.

Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan David Dunstan, PhD, kepala laboratorium aktivitas fisik dari Baker IDI Heart and Diabetes Institute di Victoria, Australia.

2. Gangguan tidur
Terlalu lama terkena cahaya dari pesawat TV dapat mengurangi kadar hormon melatonin otak, yang biasanya meningkat di malam hari saat pencahayaan mulai berkurang.

Menonton TV terlaau lama terutama di malam hari dapat mempengaruhi irama alami tubuh, membuat mudah terjaga, membuat tidur yang tidak teratur dan kelelahan ekstrim. Pengurangan tingkat melatonin juga dikaitkan dengan pubertas dini pada anak perempuan.

3. Peningkatan risiko diabetes
Sebuah studi 2003 yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association menunjukkan bahwa risiko diabetes meningkat sebesar 14 persen untuk setiap 2 jam menonton TV dalam sehari.

Penelitian lain yang dilakukan di tahun yang sama dan diterbitkan dalam jurnal Lipid menemukan bahwa pria yang menonton TV lebih dari 40 jam per minggu 3 kali lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes tipe 2 dibandingkan laki-laki yang menonton TV kurang dari 1 jam setiap hari atau 7 jam per minggu.

Menurut peneliti, semua peningkatan risiko ini dapat dijelaskan dengan meningkatnya ngemil dan berkurangnya aktivitas terkait dengan duduk di depan TV.

4. Attention Deficit Disorder (gangguan penurunan perhatian)
Pada tahun 1970-an, seorang Profesor bernama Werner Halperin menyatakan bahwa perubahan yang cepat dari suara dan gambar pada TV dapat mempengaruhi sistem saraf pada anak muda dan dapat menyebabkan masalah perhatian.

Juga, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti di University of Washington Child Health Institute menemukan bahwa anak 3 tahun yang menonton TV dua jam per hari 20 persen lebih mungkin mengalami masalah perhatian pada usia 7 tahun daripada anak yang tidak menonton TV.

5. Gangguan penglihatan
Menonton TV terlalu banyak tidak baik untuk mata, terutama saat menonton TV di ruangan gelap. Fokus mata terlalu panjang pada setiap objek bisa menyebabkan ketegangan mata.

6. Pengurangan interaksi sosial
Menonton TV dapat menggantikan interaksi sosial dengan teman dan keluarga, merampas anak-anak berbagi ide dan perasaan dengan orang lain. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai fobia sosial.

Tidur Langsung Usai Makan Malam Malah Bikin Tak Nyenyak

img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Bila Anda ingin tidur nyenyak di malam hari, maka sebaiknya jangan langsung tidur usai makan malam. Langsung tidur usai makan malam bisa menjadi salah satu faktor yang membuat tidur tak nyenyak.

Tidak sedikit orang yang bangun di pagi hari terburu-buru, panik dan masih mengantuk. Hal ini disebabkan karena orang-orang tersebut tidak mendapatkan tidur nyenyak di malam hari.

Salah satu penyebab tidur tidak nyenyak di malam hari adalah langsung tidur usai makan malam. Bila ingin tidur nyenyak dan bangun segar di pagi hari, sebaiknya jangan langsung tidur usai makan malam, seperti dilansir Livestrong, Sabtu (16/4/2011).

Selain itu, pada artikel yang ditulis detikHealth sebelumnya, Dr H. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Lambung dan Pencernaan, FKUI-RSCM menjelaskan bahwa tidur setelah makan tidak sehat menurut ilmu kedokteran. Hal ini karena sistem pencernaan masih belum selesai mengerjakan tugasnya, terutama lambung.

"Setelah makan, makanan akan disimpan di dalam lambung. Nah, ketika Anda langsung tidur, maka makanan itu akan berbalik arah lagi ke atas," ujar Dr Ari.

Menurut Dr Ari, kondisi ini disebut dengan refluks esofagus atau esophageal reflux, yaitu kembalinya makanan dari lambung ke dalam esofagus (saluran yang mengangkut makanan dari mulut ke perut).

Bila kondisi ini terjadi, maka makanan yang baru saja mencapai lambung akan berbalik arah menuju ke kerongkongan. Selain itu, tentu saja ada asam lambung yang terbawa oleh makanan tersebut.

Akibatnya, kerongkongan akan terasa kering, panas, kadang membuat orang merasa mual, mulas dan ingin muntah karena ada makanan yang berbalik arah. Hal ini akan semakin parah bila orang tersebut sudah menderita penyakit maag atau tungkak lambung.

Sebaiknya beri jeda waktu beberapa jam setelah makan malam sebelum beranjak ke tempat tidur. Selain itu, hindari mengonsumsi kafein, gula, coklat dan alkohol terlalu banyak sebelum tidur.

Makan sebelum tidur dan mengonsumsi minuman-minuman tersebut dapat membuat sistem pencernaan bekerja ekstra di waktu tidur sehingga menyebabkan orang tidur lebih ringan atau tidak nyenyak hingga tidak memberikan kesegaran dan tenaga penuh saat bangun di pagi hari.